Aerator Tipe Kincir IPB

Fungsi Aerator Tipe Kincir IPB mempengaruhi tingkat kesuburan tanah dalam kolam, dan teknologi ini siap digunakan di masyarakat.

Teknologi Aerator Tipe Kincir ini juga telah mengalami inovasi-inovasi untuk meningkatkan tingkat efisiensinya.

Info selanjutnya klik di sini

01 April 2009
Jaga Kualitas Air, Cegah Gagal Panen

Hujan deras 2 jam sudah cukup jadikan perairan mengalami perubahan drastis, sebagai pintu gerbang wabah

Obon masih bisa tersenyum saat menceritakan bisnisnya yang sedang lesu akhir-akhir ini di Taman Sari, Lippo Karawaci, Tangerang beberapa waktu lalu. Sudah tiga bulan terakhir omset permintaan kincir (aerator untuk tambak) di perusahaannya turun. ?Kalau bisnis lesu seperti ini, biasanya karena di lapangan sedang ada wabah,? kata Obon yang merupakan General Manager PT General Agromesin Lestari, penyedia alat aerator buatan China.
Lelaki bernama lengkap Obon B Japhar  ini memperkirakan penyebab penurunan omset kincir karena ada gagal panen udang di beberapa daerah. Seperti di Jawa Timur misalnya, telah muncul wabah di awal tahun ini. ?Menimpa beberapa pelanggan saya,? terang Obon.  Dugaan paling kuat, menurut Obon, karena fluktuasi cuaca yang cukup ekstrim belakangan ini. ?Kualitas air memburuk, udang stres, penyakit masuk,? Obon mengutarakan runutan.
Kendati demikian Obon mengakui indikator tersebut tidak mutlak. ?Tiga bulan terakhir, belitan krisis keuangan juga menjadi sebab mayor lesunya bisnis udang,? ujarnya. Baik krisis keuangan maupun cuaca ekstrim keduanya memicu petambak menahan diri menebar benur. Kalaupun tetap jalan, kebanyakan mengurangi kepadatan tebar, alhasil jumlah kincir yang terpasang pun dikurangi. Dia menyebut kisaran penyusutan omset mencapai 20 ? 25 %.

Curah Hujan Tinggi
Keluhan tingginya kasus kematian udang di berbagai tambak tanah air belakangan ini dianggap masuk akal oleh Bambang Widigdo, Quality Assurance for Shrimp Farm PT Charoen Proteinaprima. Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi selama rentang waktu akhir tahun lalu dan berlanjut sampai Maret ini. ?Sampai 2,5 kali angka rata-rata curah hujan dalam setahun,? sebutnya.
Curah hujan tinggi, kata Bambang, bisa dipastikan akan menyebabkan fluktuasi suhu air tambak. Bahkan lebih jauh bisa juga menyebabkan pergeseran pH dan DO (kelarutan oksigen) dalam tambak. ?Hujan deras sekitar 2 jam saja sudah cukup menjadikan perairan mengalami perubahan drastis,? ujar Bambang.
Di tempat lain, Widyatmoko, Manager Research and Development, Aqua Feed Operation PT Suri Tani Pemuka?produsen pakan ikan dan udang? berpendapat, kasus gagal panen terjadi karena mutu air yang buruk. Selain menjadi faktor penyebab, mutu air yang buruk juga bisa jadi faktor akibat. Misalnya blooming fitoplankton yang menyebabkan kematian masal fitoplankton (crash fitoplankton). Akibatnya, berbagai parameter mutu air akan berubah secara mendadak, seperti DO akan turun cepat (karena dikonsumsi untuk dekomposisi bahan organik) dan tidak mudah naik karena tidak ada fotosintesa, pH turun (karena keseimbangan karbonat bergeser ke kiri), amonia (TAN) kemungkinan naik. ? Keadaan ini akan menimbulkan stres bagi udang sehingga rentan terhadap serangan penyakit.  Banyak kasus serangan penyakit bakterial (maupun viral) pada budidaya udang diawali dengan memburuknya mutu air,? katanya.
Memburuknya mutu air, jelas Widyatmoko, dipengaruhi oleh reaksi-reaksi biologi, fisika dan kimia air.  Jika budidaya dilakukan dengan sistem terbuka (penggantian air dari luar cukup banyak) maka mutu air kolam dipengaruhi oleh mutu air dari ekosistem luar.  Jika budidaya dilakukan dengan sistem tertutup maka mutu air dipengaruhi oleh proses biokimia dalam kolam.  ?Dalam budidaya, saya selalu menekankan parameter oksigen dan suhu air yang secara langsung mempengaruhi metabolisme tubuh hewan air.  Kalau oksigen rendah maka udang akan stres dan menimbulkan efek samping yang berbahaya.  Jika suhu turun maka laju metabolisme tubuh turun, dampaknya nafsu makan turun, imunitas berkurang,? ujarnya.
Diperjelas Bambang, penurunan suhu air yang sampai pada titik 260C atau bahkan lebih dingin lagi, akan jadi titik kritis (pemicu) bagi timbulnya penyakit. ?WSV, misalnya,? Bambang mengambil contoh. WSV (White Spot Virus) akan meningkat virulensinya (keganasan) ketika suhu air di titik optimumnya 260C atau di bawahnya lagi. Terekspos beberapa jam saja, peningkatan virion (jumlah agen virus penyebab) akan mencapai ke jumlah kuorum yang bagi udang bisa menyebabkan timbulnya penyakit. ?Sebelum mencapai jumlah kelipatan kuorum infektif, meski virus ada di perairan tersebut, udang tidak sakit,? jelas Bambang yang juga dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Tapi karena adanya pemicu dari lingkungan yang menurun, virus berkembang cepat, titik optimal tercapai, maka saat itulah udang jadi sakit dan bisa berlanjut menjadi wabah.  Ia mengimbuhkan, di 300C virus tidak berkembang.
Guna menyiasati iklim yang tak bersahabat itu, Bambang tegas menunjuk upaya pencegahan (preventif). Antara lain mengurangi kepadatan saat tebar bila sudah diperkirakan sekian bulan ke depan cuaca akan memburuk. ?Pantauan prediksi cuaca dari BMG sangat diperlukan sebagai panduan,? saran Bambang. Pencegahan lainnya adalah memastikan penggunaan benur yang bebas penyakit (SPF/Specific Pathogenic Free). Disamping itu juga dengan mencegah faktor penambah tingkat stres. Bambang berargumen untuk kasus virus tak ada obatnya, sehingga satu-satunya strategi adalah pencegahan.
Kalau telanjur kena, lanjut Bambang, tak ada yang bisa dilakukan. Panen dini hanya bertujuan mengurangi tingkat kerugian. Tapi harus diingat, air bekas budidaya mengandung bibit penyakit yang berpotensi menyebarkan virus dan menularkan ke tambak lain. Maka perlu di-treatment, dengan desinfektan kaporit misalnya. ?Tapi ini kan mahal, jadi preventif lebih murah,? kembali ia menegaskan.
Bambang sempat menyinggung tips ?kuno? dalam budidaya udang, petambak punya kebiasaan kalau sore mendung, menyiapkan kapur di tanggul. Tujuannya untuk menjaga pH agar tidak turun. Tapi ini hanya membantu menjaga pH, tidak untuk suhu dan DO. pH terjaga 7,5 sehingga H2S yang terbentuk minimum.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi April 2009

(Sumber: http://www.trobos.com/show_article.php?rid=13&aid=1537)

Hasil Riset Mesin IPB Diekspos ke Publik

Bogor, CyberNews. Selama tiga tahun terakhir, sepuluh hasil penelitian Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor ( TEP-FATETA-IPB) telah digunakan langsung oleh industri dan masyarakat.

Demikian ungkap Ketua Departemen TEP FATETA IPB, Dr.Ir. Wawan Hermawan yang disampaikan dalam acara Ekspose dan Temu Bisnis Agro-Machinery 2007 ’Membangun Kerjasama antara Perguruan Tinggi Industri dan Pemerintah dalam Pengembangan Alat serta Mesin Pertanian’ 12-13 Juni di FATETA Kampus IPB Darmaga.

”Hasil penelitian tersebut berupa rancang bangun alat, mesin dan perlengkapan produksi yang pesan pengguna,” kata Wawan dalam siaran pers kepada SM CyberNews, Selasa.

Beberapa diantaranya, mesin perontok dan huller buru botong dipesan Pemda Pulau Buru Ambon, vibrator dan destilator dipesan Badan Riset Kelautan dan Perikanan serta Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, mesin pengupas biji mete dipesan Departemen Pertanian Nusa Tenggara Barat, dan Subsoiler Getar untuk budidaya tebu lahan kering dipesan PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

Selain itu juga mesin pengolahan kompos tandan kosong kelapa sawit dipesan PT Tidar Kerinci Agung Solok Padang, mesin juicer dan alat distilasi dipesan Edelstein Malaysia, specific gravity separator dan elemen ball tea dipesan PT. KBP Chakra Bandung, mesin penanganan penyumpatan saluran drainase jalan tol oleh PT.Citra Marga Jakarta dan alat pemupuk mekanis dipesan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI.

Selain yang sudah digunakan, Departemen TEP IPB selama tiga tahun juga mengembangkan 14 penelitian yang kini baru tahap siap digunakan dan 16 yang masih perlu disempurnakan untuk diterapkan.

Hasil penelitian yang siap diterapkan antara lain; aerator tipe kincir, alat pemupukan pada lahan tebu, mesin pencampur pupuk, sistem pengolahan tepung iles, pemingsanan udang untuk transportasi, sistem irigasi kendi, penukar panas menggunakan tungku pengering dan pengering efek rumah kaca.

Disamping itu hasil riset lain yakni; penahan erosi dan aliran permukaan menggunakan bahan organik, rancangan teras bangku untuk stabilitas lerang lahan sawah, irigasi tetes untuk tanaman jeruk, sistem informasi industri kelapa sawit, sistem informasi berbasis jaringan untuk distribusi produk pertanian dan ditcher serta mekanisme pengeruk untuk saluran drainase pada budidaya tebu lahan kering.( mh habib shaleh/Cn08 )

Selasa, 19 Juni 2007 : 17.29 WIB

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission

Hasil Riset Mesin Buatan TEP-IPB Diekspos ke Publik

Selama tiga tahun terakhir, sepuluh hasil penelitian Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor ( TEP-FATETA-IPB) telah digunakan langsung oleh industri dan masyarakat. Demikian ungkap  Ketua Departemen TEP FATETA IPB,  Dr.Ir. Wawan Hermawan yang disampaikan dalam acara Ekspose dan Temu Bisnis Agro-Machinery 2007 ’Membangun Kerjasama antara Perguruan Tinggi Industri dan Pemerintah dalam Pengembangan Alat serta Mesin Pertanian’ 12-13 Juni di FATETA Kampus IPB Darmaga. ”Hasil penelitian tersebut berupa rancang bangun alat, mesin dan perlengkapan produksi yang pesan pengguna,” kata Wawan.  Beberapa diantaranya, mesin perontok dan huller buru botong dipesan  Pemda Pulau Buru Ambon, vibrator dan destilator dipesan  Badan Riset Kelautan dan Perikanan serta Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, mesin pengupas biji mete dipesan Departemen Pertanian Nusa Tenggara Barat, Subsoiler Getar untuk budidaya tebu lahan kering dipesan PT.  Rajawali Nusantara Indonesia,  mesin pengolahan kompos tandan kosong kelapa sawit dipesan PT Tidar Kerinci Agung Solok Padang, mesin juicer dan alat distilasi dipesan Edelstein Malaysia, specific gravity separator dan elemen ball tea dipesan PT. KBP Chakra Bandung, mesin penanganan penyumpatan saluran drainase jalan tol oleh PT.Citra Marga Jakarta dan alat pemupuk mekanis dipesan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI.

Selain yang sudah digunakan, Departemen TEP IPB selama tiga tahun juga mengembangkan 14 penelitian yang kini baru tahap siap digunakan dan 16 yang masih perlu disempurnakan untuk diterapkan. Hasil penelitian yang siap diterapkan antara lain; aerator tipe kincir, alat pemupukan pada lahan tebu, mesin pencampur pupuk, sistem pengolahan tepung iles, pemingsanan udang untuk transportasi, sistem irigasi kendi, penukar panas menggunakan tungku pengering dan pengering efek rumah kaca. Disamping itu hasil riset lain yakni; penahan erosi dan aliran permukaan menggunakan bahan organik,  rancangan teras bangku untuk stabilitas lerang lahan sawah, irigasi tetes untuk tanaman jeruk, sistem informasi industri kelapa sawit, sistem informasi  berbasis jaringan untuk distribusi produk pertanian dan ditcher serta mekanisme pengeruk untuk saluran drainase pada budidaya tebu lahan kering.

Kepala Center for Research on Engineering Applications in Tropical Agriculture Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat CREATA-LPPM-IPB, Prof.Dr.Tineke Mandang dan Ketua Agro-Mechinery Industrial Interface (Amin) Unit, Dr.IR.Radite P.A.S dalam acara tersebut juga mengekspose hasil-hasil penelitian CREATA serta AMIn. Dalam sambutannya,

Rektor IPB, Prof.Dr.Ir Ahmad Anshori Mattjik mengatakan menyambut baik acara temu bisnis tersebut. ” Kegiatan ini sangat sesuai dengan harapan kami yang ingin menggandeng Bussiness, dan Goverment dalam mendeseminasi hasil-hasil penelitian IPB ke masyarakat luas,” tegas Rektor IPB. Usai memberi sambutan Rektor IPB mengunjungi stan pameran mesin pertanian dan mengendarai traktor berbahan bakar minyak kelapa. Hadir pula sebagai pembicara pada hari itu, perwakilan PT.Rajawali Nusantara Indonesia, T.G Marpaung,  Pemda Kabupaten Bogor, Drs.H.R.Ibrahim Arifin, M.Si,  PT.Metavisi Sentra Integra, Puji Santoso, ST dan Kantor Hak dan Kekayaan Intelektual IPB, Efridani Lubis, SH.MH. (ris)

Kampus IPB Baranangsiang, Jl. Pajajaran – Bogor 16127
Telp/Fax. +62 251 356653
e-Mail : ilkom[at]ipb.ac.id

PENGARUH MODIFIKASI AERATOR KINCIR TIPE PEDAL LENGKUNG PADA PENINGKATAN KADAR OKSIGEN AIR

SARI ROSMAWATI

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Selengkapnya:

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12113/F09sro.pdf?sequence=2

Pengaruh Penggunaan Aerator Kincir Tipe Pedal Lengkung pada Peningkatan Kadar Oksigen Air



Rosmawati, Sari

2009

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/12113

Oksigen yang terkandung dalam air disebut oksigen terlarut (Dissolved oxygen atau DO) jumlahnya dapat berkurang disebabkan oleh beberapa hal antara lain: respirasi hewan dan tumbuhan (seperti tanaman air dan alga), dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen, reduksi yang disebabkan oleh gas-gas lainnya di dalam air. Untuk itu perlu digunakan alat-alat aerasi untuk menghindari kekurangan oksigen dalam air. Tujuan dari aerator kincir adalah untuk memperluas kontak antara udara dan air yaitu saat air disemburkan ke udara dan untuk mempermudah udara masuk ke dalam air yaitu saat pedal bergerak masuk ke dalam air. Aerator kincir merupakan alat mekanik yang berfungsi untuk meningkatkan nilai oksigen air sehingga lebih banyak oksigen yang terlarut dalam air. Kincir air bekerja mengangkat air ke udara untuk disemburkan sehingga akan memperbesar luas permukaan kontak udara dan air (Prasetia, 2005). Kincir dengan bentuk yang tidak hidrodinamis dan tidak aerodinamis akan mempunyai tahanan yang besar. Dengan adanya tahanan yang bekerja pada kincir yang berputar akan menyebabkan turunnya kecepatan putar. Dengan demikian akan mengakibatkan beberapa kerugian, diantaranya turunnya efektifitas penggunaan daya, dengan daya listrik yang sama menghasilkan kecepatan yang lebih kecil. Hal ini akan memperpanjang waktu operasi sehingga pemakaian listrik menjadi lebih besar dan penggunaan jam kerja lebih panjang. Pengembangan prototipe kincir pedal lengkung telah dilakukan uji fungsional terhadap kinerjanya menunjukkan bahwa konsumsi energi dapat diturunkan namun tetap menghasilkan aerasi yang efektif (Prasetia, 2005). Aerator tersebut terbukti mampu bekerja dengan baik, namun pada penelitian tersebut belum dilakukan pengujian mengenai pengaruh aerasi terhadap peningkatan oksigen terlarut dalam air yaitu uji lapang di kolam dengan beban ikan. Selain itu, sistem transmisi hasil penelitian tersebut dinilai masih belum memadai sehingga masih perlu dimodifikasi lagi sehingga kecepatan kincir dapat ditingkatkan. Dalam penelitian ini akan diuji kincir pedal lengkung (Radite 2006)yang telah dimodifikasi berdasarkan penelitian sebelumnya (Radite 2003) yang telah ada sebagai satu pilihan alat aerasi sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan alat aerasi yang murah dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi dan mengukur kinerja aerator kincir tipe pedal lengkung yang dikembangkan sebelumnya yaitu dengan cara mengukur peningkatan kadar oksigen terlarut (DO) dalam air kolam, distribusi nilai oksigen terlarut di dalam kolam dan mengukur konsumsi daya listrik yang terpakai. Modifikasi dilakukan untuk meningkatkan kecepatan putar agar menghasilkan diameter semburan air ke udara lebih jauh sehingga persentase sebaran air yang dihasilkan dari diameter semburan tersebut menjadi tinggi. Modifikasi sistem transmisi dilakukan di Laboratorium Teknik Mesin Budidaya Pertanian, Departemen Teknik Pertanian IPB, Darmaga, Bogor, Jawa Barat. Pengujian lapang kincir aerator pedal lengkung dan pengujian diameter semburan dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Sukabumi, Jawa Barat. Hasil dari modifikasi transmisi diperoleh tiga kali reduksi kecepatan putar dengan menggunakan sistem transmisi rantai dan roda gigi yaitu 117 rpm, 138 rpm dan 157 rpm dari sebelumnya 83 rpm, 96 rpm dan 124 rpm. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengukuran oksigen terlarut untuk menentukan waktu yang tepat untuk pengoperasian kincir secara optimal, didapatkan kadar oksigen kolam tertinggi sebesar 4.87 mg/L pada titik satu, 4.57 mg/L pada titik dua, 3.63 mg/L pada titik tiga dan 5.38 mg/L pada titik empat, pada waktu pengamatan berkisar antara pukul 14.00- 16.00. Untuk kadar oksigen terendah pada titik satu sebesar 0.63 mg/L, 0.84 mg/L pada titik dua, 0.89 mg/L pada titik tiga dan 0.95 mg/L pada titik empat, pada waktu pengamatan antara 04.00-06.00. Dari hasil tersebut maka ditentukan waktu pengoperasian kincir yaitu pada pukul 20.00-08.00. Pada penelitian utama dengan menggunakan aerator tipe pedal lengkung 450, jumlah lubang pada pedal adalah 20, kemiringan pedal 00 dan kecepatan putar 117 rpm, 138 rpm dan 157 rpm, dapat dihasilkan pengukuran maksimum oksigen terlarut yaitu dengan kecepatan putar 157 rpm dengan nilai 4.88 mg/L di permukaan kolam. Pengukuran minimum oksigen terlarut dengan kecepatan putar 117 rpm diperoleh nilai 2.84 mg/L di dasar kolam. Diameter semburan yang terbesar didapat pada perlakuan pedal lengkung 450, jumlah lubang pada pedal adalah 20, posisi pedal datar dan kecepatan putar 157 rpm. Diameter semburan terkecil yaitu pada perlakuan pedal lengkung 450, jumlah lubang pada pedal adalah 20, posisi pedal datar dan kecepatan putar 117 rpm. Coverage area terbesar didapat pada perlakuan dengan kecepatan putar 157 rpm yaitu seluas 410801 cm2, sedangkan coverage area terkecil dihasilkan pada kecepatan putar 117 rpm yaitu seluas 30485 cm2. Konsumsi daya listrik terkecil yang dihasilkan adalah 560 watt dengan kecepatan putar 117 rpm, sedangkan konsumsi daya listrik terbesar dihasilkan dari kecepatan putar 157 rpm yaitu 622 watt. Dari semua pengukuran yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa perlakuan pedal lengkung 450, jumlah lubang pada pedal adalah 20, posisi pedal datar dan kecepatan putar 157 rpm merupakan perlakuan yang terbaik untuk meningkatkan nilai kadar oksigen dalam kolam dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya.

Pengaruh Jumlah Lubang, Bentuk Pedal, dan Posisi Pemasangan Pedal pada Aerator Tipe Kincir terhadap Daya, Diameter Semburan, dan Luas Penutupan

Title: Pengaruh Jumlah Lubang, Bentuk Pedal, dan Posisi Pemasangan Pedal pada Aerator Tipe Kincir terhadap Daya, Diameter Semburan, dan Luas Penutupan
Author: Adnan, Ibnu Fajar
Abstract: Oksigen terlarut merupakan faktor yang sangat penting dalam perikanan intensif. Huet (1971 ) menyatakan bahwa ikan dapat hidup dan berkembang biak dengan baik jika kandungan oksigen terlarut dalarn air tidak kurang dari 4 ppm. Oksigen terlarut (dissolved oxygen) adalah jumlah mg/l gas oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen yang terlarut dalam air dapat berkurang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya respirasi hewan dan tumbuhan, dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen, reduksi yang disebabkan oleh gas-gas lainnya di dalam air (Welch, 1952). Untuk menghindari kekurangan oksigen terlarut dalam air maka perlu digunakan alat-alat aerasi.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/20713
Date: 2003

 

Komponen Pedal Lengkung untuk Kincir Aerator

Title: Komponen Pedal Lengkung untuk Kincir Aerator
Author: Prasetia, Anjar
Abstract: Penemuan ini berupa rancangan bentuk pedal lengkung untuk roda kincir hemat energi, yang merupakan komponen dari aerator tipe kincir, yang bahan bakunya dari bahan pelat baja dengan electro-plating. Satu unit roda kincir tersebut mempunyai delapan pedal lengkung yang dipasang pada roda berbentuk segi delapan. Unit roda kincir ini mempunyai rancangan sehingga kemiringan pedal arah kesamping dapat diatur. Dalam penggunaannya, aerator tipe kincir ini berfungsi sebagai alat aerasi suatu kolam atau tambak, yaitu untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air. Prinsip kerja alat ini adalah dengan cara memutar roda kincir pada permukaan air dengan kedalaman pedal tertentu dan kecepatan putar tertentu agar diperoleh hasil yang efektif. Roda kincir dalam rangkaian tersebut dapat diputar dengan sumber tenaga motor listrik atau dengan sumber tenaga motor bakar baik motor bensin maupun motor diesel.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/4081
Date: 2006
Judul : Komponen Roda Kincir untuk Aerator  
No. reg/ID : P00200300629 Tanggal Pendaftaran : 8?Desember?2003
Inventor : Dr. Radite P. Agus Setiawan, M.Agr
Prof. Dr. Ir. Budi I. Setiawan, M.Agr
Ir. Ardiansyah
Jenis Paten : Paten
   

 

Abstrak
 

Penemuan ini berupa rancangan bentuk roda kincir, yang merupakan komponen dari aerator tipe kincir, yang bahan bakunya dari bahan pelat baja dengan electro-plating.  Satu unit roda kincir tersebut mempunyai delapan pedal aerator yang dipasang pada roda berbentuk segi delapan. Dalam penggunaannya, aerator tipe kincir ini berfungsi sebagai alat aerasi suatu kolam atau tambak, yaitu untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air.  Prinsip kerja alat ini adalah dengan cara memutar roda kincir pada permukaan air dengan kedalaman pedal tertentu dan kecepatan putar tertentu agar diperoleh hasil yang efektif.   Roda kincir dalam rangkaian tersebut dapat diputar dengan sumber tenaga motor listrik atau dengan sumber tenaga motor bakar baik motor bensin maupun motor diesel.

 

Title: Komponen Roda Kincir untuk Aerator

Author: Setiawan, Radite P. Agus; Setiawan, Budi I.; Ardiansyah

Abstract: Penemuan ini berupa rancangan bentuk roda kincir, yang merupakan komponen dari aerator tipe kincir, yang bahan bakunya dari bahan pelat baja dengan electro-plating. Satu unit roda kincir tersebut mempunyai delapan pedal aerator yang dipasang pada roda berbentuk segi delapan. Dalam penggunaannya, aerator tipe kincir ini berfungsi sebagai alat aerasi suatu kolam atau tambak, yaitu untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air. Prinsip kerja alat ini adalah dengan cara memutar roda kincir pada permukaan air dengan kedalaman pedal tertentu dan kecepatan putar tertentu agar diperoleh hasil yang efektif. Roda kincir dalam rangkaian tersebut dapat diputar dengan sumber tenaga motor listrik atau dengan sumber tenaga motor bakar baik motor bensin maupun motor diesel.

URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/4093
Date: 2003
Search